Langsung ke konten utama

Menilik Beberapa Film Besutan Sutradara Perempuan Indonesia

Terlepas dari meningkatnya kesadaran mengenai kesetaraan gender, industri perfilman Indonesia masih sangat didominasi oleh laki-laki. Salah satunya terlihat dari perbandingan jumlah sutradara perempuan yang tak sebanding dengan sutradara laki-laki.

Meskipun jumlahnya masih terbilang sedikit, Indonesia memiliki beberapa sutradara perempuan yang telah menghasilkan karya-karya berkualitas dan patut diakui dan diapresiasi.

Sayangnya, kemampuan sutradara perempuan kerap kali dipandang sebelah mata. Padahal, kehadiran sutradara perempuan sangat penting untuk memperkaya perspektif dalam perfilman Indonesia. Untuk itu, kami mencoba merangkum karya sutradara perempuan selama dua dekade terakhir. Film-film ini tak hanya bagus dari segi teknis, tapi juga membawa gebrakan dengan mengangkat tema-tema yang jarang dibicarakan. Berikut adalah film-film Indonesia karya sutradara perempuan yang harus kamu tonton!

1. Fiksi karya Mouly Surya, 2008

Fiksi merupakan film pertama dari sutradara Mouly Surya yang berkisah tentang seorang perempuan bernama Alisha yang dibintangi Ladya Cheryl. Alisha menderita penyakit mental setelah melalui masa kecil yang traumatis. Setelah hidup dalam kesendirian di rumah mewah milik ayahnya, Alisha memutuskan untuk menyewa unit di sebuah rumah susun.

Di situ, ia bertemu dengan Bari, yang diperankan oleh Donny Alamsyah, seorang penulis fiksi. Alisha dan Bari pun menjadi semakin dekat, namun kejadian-kejadian aneh satu per satu mulai bermunculan di rusun. Dari bermacam-macam genre, drama psikologi thriller mungkin adalah yang paling jarang ditemui dalam film-film Indonesia. Namun Fiksi adalah salah satu dari film thriller lokal yang menyediakan pengalaman menonton tak terlupakan. Sepanjang film, seperti Alisha, kita juga akan ikut mempertanyakan mana yang fiksi dan mana yang realita.

2. Yuni karya Kamila Andini, 2021

Tiga tahun lalu, kita dibuat bangga oleh kemenangan film Yuni yang mendapat penghargaan Platform Prize di Toronto International Film Festival. Yuni, barangkali adalah film Indonesia terbaik di 2021, sekalipun ia hanya membawa pulang satu piala dari Festival Film Indonesia. Yuni, yang diperankan oleh Arawinda Kirana, adalah seorang pelajar berprestasi yang memiliki impian untuk bersekolah setinggi-tingginya. Tapi, ada satu hal yang menghalangi Yuni dari mimpinya: tuntutan orang-orang sekitarnya untuk menerima lamaran dan menikah.

Yuni dilamar dua kali, dan dua kali juga ia menolak. Namun, Yuni dihantui oleh mitos yang mengatakan apabila perempuan menolak lamaran untuk ketiga kalinya, ia tidak akan bisa menikah selamanya. Yuni adalah sebuah karya yang jujur, ia mampu menunjukkan realita yang harus dihadapi oleh banyak remaja perempuan di Indonesia. Mungkin Kamila Andini tak mendapat penghargaan sebagai sutradara terbaik, tapi Yuni adalah sebuah karya yang bersejarah bagi perfilman Indonesia.

3. Berbagi Suami karya Nia Dinata, 2006

Di tengah kultur poligami yang menjamur di Indonesia, Nia Dinata bersuara dengan lantang melalui filmnya yang berjudul Berbagi Suami. Film ini mengupas fenomena poligami yang diceritakan melalui sudut pandang tiga perempuan. Dalam film ini, kita diajak untuk merasakan pengalaman Salma (Jajang C. Noer), Siti (Shanty), dan Ming (Dominique). Salma adalah seorang dokter dari keluarga mapan. Siti adalah perempuan muda yang merantau ke Jakarta bersama Pak Liknya. Sedangkan Ming adalah seorang remaja berusia 19 tahun yang bekerja sebagai pelayan di restoran bebek milik Koh Abun.

Meski latar belakang mereka berbeda, usia mereka berbeda, dan pengalaman mereka berbeda, tapi ketiga perempuan ini sama-sama harus menanggung akibat dari poligami. Salma harus mengalah ketika suaminya menikah kembali tanpa sepengetahuannya. Siti harus mengubur cita-citanya demi merawat anak-anak suaminya. Sementara Ming harus menghadapi kemarahan istri pertama Koh Abun dan dicap sebagai perusak rumah tangga. Film ini menunjukkan bahwa dalam kasus poligami, perempuan lebih sering mengalami duka dan kerugian.

4. Dua Garis Biru karya Gina S. Noer, 2019

Dua Garis Biru adalah film emosional yang wajib ditonton oleh remaja dan keluarga. Bima yang diperankan Angga Yunanda, dan Dara dibintangi, Adhisty Zara, adalah dua pelajar yang sedang menjalin hubungan. Sayangnya, Dara mengalami kehamilan tidak direncanakan. Bima dan Dara, secara tiba-tiba harus mempersiapkan diri menjadi orang tua di usia mereka yang masih muda. Dara pun siap tidak siap harus menghadapi perubahan yang terjadi pada tubuhnya.

Dua Garis Biru adalah film yang berani dan ditulis dengan sangat apik. Ia mengangkat tema yang masih menjadi tabu dalam masyarakat Indonesia, yaitu mengenai kehamilan yang tidak direncanakan. Alih-alih meromantisasi teen mom, Gina S. Noer justru mencoba menampilkan realita pahit tentang pendidikan seksual di Indonesia yang belum bisa secara terbuka membicarakan tentang seksualitas. Pendidikan seksual yang setengah-setengah memiliki konsekuensi langsung terhadap kesehatan reproduksi generasi muda. Dan lagi-lagi perempuanlah yang menanggung resiko paling berat.

5. Perempuan Punya Cerita karya Lasja Fauzia Susatyo, Nia Dinata, Upi Avianto dan Fatimah Tobing Rony, 2008

Perempuan Punya Cerita adalah film omnibus dari empat sutradara perempuan; Lasja Fauzia Susatyo, Nia Dinata, Upi Avianto, dan Fatimah Tobing Rony. Masing-masing dari mereka menyutradarai satu fragmen cerita yaitu fragmen Cerita Pulau, Cerita Yogyakarta, Cerita Cibinong, dan Cerita Jakarta. Cerita Pulau mengisahkan relasi antara seorang bidan bernama Sumantri dengan seorang perempuan penyandang disabilitas mental bernama Wulan yang mengalami perkosaan. Cerita Yogyakarta mengisahkan Safina dan teman-temannya, sekelompok pelajar di Yogyakarta, yang terjebak dalam kasus pelecehan, kehamilan tidak direncanakan, dan aborsi.

Sementara itu, Cerita Cibinong mengangkat kisah Esi yang bekerja sebagai pembersih WC di sebuah klub malam untuk menghidupi anaknya, Maesaroh. Dalam cerita ini, Maesaroh menjadi korban pelecehan dan perdagangan perempuan. Terakhir, Cerita Jakarta mengisahkan tentang Laksmi yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya yang mengalami overdosis. Laksmi pun diketahui menderita HIV/AIDS, dan ia dituduh menyebarkan penyakit itu ke suaminya. Keluarga besar suaminya pun mencoba memisahkan Laksmi dari anaknya.

Perempuan Punya Cerita adalah serentetan kisah yang bisa membuatmu merasa pilu, marah, dan kecewa. Film ini menunjukkan bahwa dalam masyarakat patriarkis, perempuan-apapun latar belakangnya, akan selalu berada di posisi yang lebih rentan.

Sebuah film tidak akan bisa dilepaskan dari peran sutradaranya. Sebab dunia yang dilihat oleh audiens dalam film adalah dunia dari perspektif seorang sutradara. Oleh karenanya, sutradara perempuan harus diberi ruang yang lebih luas untuk bisa berkarya dengan sebaik-baiknya, sebebas-bebasnya.

Selain film-film di atas, masih ada banyak lagi karya-karya sutradara perempuan yang patut untuk diapresiasi oleh khalayak luas. Kalau kamu, adakah film yang menjadi favoritmu dan digarap oleh sutradara perempuan Indonesia?

[SB]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pernah Menjadi Atlet Taekwondo, Kini Aghininy Sukser sebagai Aktris Drama Ternama

Aghniny Haque, nama yang kini tak asing lagi di dunia perfilman Indonesia. Perempuan kelahiran Semarang, 8 Maret 1997 ini, mengawali karirnya sebagai atlet taekwondo berprestasi. Ia bahkan pernah menjadi bagian dari tim nasional Indonesia pada tahun 2011 dan menorehkan berbagai prestasi, seperti medali perunggu SEA Games 2013 dan medali perak Kejuaraan Taekwondo Asia 2014. Sumber: KapanLagi.com Namun, cedera lutut yang dialaminya pada tahun 2016 memaksanya untuk mundur dari dunia taekwondo. Tak ingin menyerah, Aghniny kemudian banting setir ke dunia akting. Terjun ke dunia akting sejak tahun 2018, Aghniny memulai debutnya di film laga "Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212". Sejak saat itu, ia terus aktif membintangi berbagai film, mulai dari genre horor, thriller, hingga drama. Kemampuan aktingnya yang mumpuni dan totalitasnya dalam mendalami peran, mengantarkan Aghniny pada berbagai penghargaan bergengsi, seperti Piala Citra Festival Film Indonesia 2020 untuk kate...

Melihat Popularitas Aktor Indonesia yang Sering Muncul di Film

Industri film Indonesia kian berkembang pesat, menghadirkan berbagai karya berkualitas dengan cerita yang menarik dan aktor-aktor berbakat. Di antara deretan aktor Tanah Air, beberapa di antaranya menjelma menjadi bintang layar lebar yang laris manis dan selalu dinanti-nantikan kehadirannya oleh para penonton. Sumber: Okezone Celebrity Berikut beberapa aktor Indonesia yang laris tampil di layar lebar: 1. Chicco Jerikho Aktor yang terkenal dengan perannya dalam film "Filosofi Kopi" dan "Gundala" ini selalu berhasil memukau penonton dengan aktingnya yang totalitas dan penuh penghayatan. Chicco dikenal sebagai aktor yang versatile, mampu memerankan berbagai karakter dengan apik, dari komedi hingga drama yang serius. 2. Joe Taslim Sosok Joe Taslim identik dengan film laga dan aksinya yang memukau. Kemampuannya dalam bela diri dan aktingnya yang mumpuni mengantarkannya pada berbagai film laga Hollywood, seperti "Fast & Furious 6" dan "The Raid". D...

Peraih Oscar 2019, Regina King, Kembali Memukau Bertransformasi Menjadi Calon Presiden di Film "Shirley"!

“Apa aku terlihat seperti politisi lain?” kata Shirley Chisholm yang diperankan Regina King dalam trailer film "Shirley." Tayang 22 Maret di Netflix, film “Shirley” menghadirkan kombinasi genre drama, biografi, dan sejarah yang berasal dari Amerika Serikat. Film berdurasi 1 jam 57 menit ini berkisah tentang kehidupan dan karier Shirley Chislom, yakni anggota kongres kulit hitam pertama di Amerika Serikat dan wanita kulit hitam pertama yang mencalonkan dirinya sebagai presiden. Royal Ties Productions selaku rumah produksi film ini bekerja sama dengan sutradara dan penulis John Ridley. John Ridley merupakan sutradara terkenal yang terkenal dengan karyanya “American Crime”, “Guerilla”, “Needle in a Timestack”, “Godfather of Harlem”, dan masih banyak lagi. Pemeran utama Shirley Chisholm yakni Regina King merupakan aktris yang laris mejeng di nominasi Oscar, kemenangannya di Oscar 2019 sebagai aktris pendukung terbaik lewat film “If Beale Street Could Talks” cukup menyita b...