Dalam karya sinematik
"The Perks of Being a Wallflower", kita disuguhkan oleh perjalanan
protagonis Charlie yang terperangkap dalam kesendirian, hingga akhirnya ia
berjumpa dengan dua sosok siswa yang menjadi penuntunnya melalui labirin
sekolah menengah. Ainsley Dwyer, seorang penulis di Sidekick, mengungkapkan
bahwa walaupun telah berlalu satu dekade sejak film ini dirilis, tema kesehatan
mental yang diangkat dalamnya masih mempertahankan keaktualannya sebagaimana
dahulu.
"The Perks Of Being a Wallflower" menawarkan isu yang cukup penting bagi remaja sekolah menengah. Film ini menjadi suatu karya yang mendapat sambutan positif karena kemampuannya dalam menggambarkan isu-isu kompleks seperti depresi, PTSD, eksplorasi seksualitas, dan tantangan-tantangan menakutkan dalam perjalanan menuju kedewasaan. Sering kali, produksi film dan acara televisi hanya menggarap tema kesehatan mental secara sekilas, tanpa mengakui bahwa realitas kesehatan mental merupakan kehadiran yang nyata dan menghampiri seseorang yang mengidapnya sepanjang waktu.
Jika kalian sedang mencari film yang mampu memperluas wawasan kalian mengenai kompleksitas kesehatan mental dan dampaknya yang mendalam terhadap kehidupan, "The Perks Of Being a Wallflower" menjadi pilihan yang sangat direkomendasikan. Sebuah karya klasik yang esensial bagi para remaja, film ini menggambarkan dengan dalamnya dampak dari depresi berat dan kerumitan dalam meminta pertolongan.
Meskipun telah dua belas tahun berlalu sejak dirilis dan mengambil latar suasana tiga dekade yang lalu, daya tarik yang masih dirasakan oleh generasi muda terhadap film tersebut mengindikasikan bahwa kesehatan mental tetap menjadi isu yang mendesak hingga saat ini.
Charlie, sang protagonis, adalah seorang remaja berusia 15 tahun yang terhempas dalam luka depresi akibat kehilangan sahabat karibnya, Michael, serta Bibi Helen. Dalam kisahnya, ia menjalin hubungan dekat dengan Patrick dan Sam, dua sosok senior di sekolahnya. Meski merasa diterima dan diakui oleh keduanya, Charlie terus menerus terjatuh ke dalam jurang depresi walaupun telah berbagi tawa dan tangis dengan teman-temannya sepanjang tahun pelajaran.
“Pada bagian di mana Charlie mengatakan sesuatu seperti 'hal itu datang dalam gelombang, ada suka dan duka' terasa sangat akurat berdasarkan pengalaman saya menangani kesehatan mental,” kata Farras seorang Mahasiswa PoliMedia.
Dalam film tersebut, pertemuan antara Charlie dan guru bahasa Inggrisnya, Mr. Anderson, menjadi momen awal di mana Charlie mulai merasakan dorongan untuk menulis. Bagi Charlie, Anderson bukan hanya seorang guru, tetapi juga sebuah inspirasi yang dianggapnya sebagai panutan. Penting bagi seorang guru untuk memperhatikan siswanya dengan seksama, karena hal tersebut dapat membangun kepercayaan dan memotivasi siswa untuk belajar dari mereka.
Adegan paling ikonik terjadi setelah saat Charlie, Sam dan Patrick sedang mengemudi melewati terowongan, Sam mendengar lagu "Heroes" oleh David Bowie di radio dan meminta Patrick untuk mengeraskan volumenya, dan pada saat itu, Sam bergerak keluar jendela menuju bak truk. Dia berdiri dan merentanngkan tangannya. Patrick yang sedang mengemudikan mobil itu mempercepat laju kendaraan itu dan Sam mulai hidup pada saat ini: semacam kelahiran kembali secara simbolis ke dalam kebebasan yang tidak lagi dibatasi oleh rasa takut.
Charlie mulai menjalin hubungan romantis dengan Mary Elizabeth, salah satu anggota grup temannya, meskipun hatinya sebenarnya tertuju pada Sam. Ketika perasaannya terhadap Sam terbongkar dan mengakibatkan rasa malu bagi Mary Elizabeth, Charlie harus menghadapi sanksi sementara berupa pengucilan dari lingkaran pertemanannya. Pada saat itu, gelombang depresi yang melanda Charlie semakin mendalam, dan ia merasa kebingungan mencari jalan keluar. Namun, ketika ia membela Patrick dalam sebuah insiden pertengkaran, pelan-pelan Charlie mulai diterima kembali dalam grupnya. Meski kembali merasa dilibatkan dalam grup temannya, depresi yang menimpanya Charlie tetap saja semakin parah.
Menjelang penutupan tahun ajaran, Sam dan Patrick semakin serius mengupas soal perguruan tinggi. Charlie merasa terhimpit, menyadari bahwa teman-temannya akan melangkah ke jenjang baru tanpa dirinya.
Charlie mencapai titik terendah dalam hidupnya saat Sam dan Patrick berangkat meninggalkan kota untuk Kuliah. Saat ia tiba di rumahnya yang kosong, dimana ia sendirian dan dihantui pikirannya yang kacau, ia sempat berfikir untuk mengakhiri hidupnya. Dalam keputusasaannya itu, ia menghubungi kakak perempuannya, Candace, untuk mengatakan bahwa kematian bibinya adalah kesalahan yang dibuat Charlie. Namun, dengan Candace tengah menghadiri sebuah pesta, seorang teman Candace dengan cepat menghubungi polisi, memohon agar mereka segera mengintervensi. Berkat kecepatan respons dari kepolisian, tragedi berhasil dihindari.
Dia terbangun di rumah sakit tanpa mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Di sana, seorang psikiater mencoba membangkitkan ingatannya dan menyadari bahwa selama ini, ia pernah mengalami pelecehan seksual saat masih kecil oleh bibinya. Meskipun trauma Charlie belum banyak diangkat sebelum adegan ini, adegan di rumah sakit mengungkapnya.
Pada malam hari saat Charlie keluar dari rumah sakit, Patrick dan Sam mengunjunginya. Mereka kembali ke terowongan dan kali ini, Charlie yang berdiri di belakang. Dia mulai menangis terharu begitu dia menyadari betapa bebas perasaannya pada saat itu, mengakhiri film dengan kutipan yang mengesankan: “And in this moment, I swear, we are infinite.”
Arti dalam pemaknaan "wallflower" berubah–ubah di sepanjang film. Awalnya Charlie menyebut dirinya wallflower karena tidak mempunyai teman. Di pesta dansa, dia adalah seorang wallflower, berdiri di pojokan dan memperhatikan semua orang. Menjelang akhir film, dia baru menyadari bahwa ada perbedaan antara menjadi wallflower dan doormat. Dia belajar bahwa itu adalah keuntungan menjadi orang yang suka berdiam diri, tetapi kamu tidak bisa tidak memikirkan diri sendiri. Kamu harus mencintai diri sendiri untuk mencintai orang lain.
Mengatakan bahwa film ini bagus merupakan sebuah pernyataan yang meremehkan. Tentu saja, kita memerlukan lebih banyak media yang mendiskusikan topik-topik serius seperti kesehatan mental. Jika topik tersebut dibahas, maka keberadaannya tidak akan hilang dalam masyarakat dan akan menjadi pemahaman baru. Orang membutuhkan sesuatu yang dapat mereka hubungkan dan pertautkan. Terkadang, seseorang mungkin merasa terhambat atau takut menua, tetapi dengan dukungan dari orang yang tepat, tidaklah perlu merasa demikian.

Komentar
Posting Komentar