Festival Film Bulanan (Fesbul) menyelenggarakan acara special dalam rangka memperingati Hari Film Nasional 2024. Acara yang diadakan pada Jumat, 29 Maret 2024 lalu itu berlangsung di PosBloc, Jakarta Selatan.
Dalam penyelenggaraannya, Fesbul mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Fesbul juga berkolaborasi dengan SAE Indonesia, PosBloc, Clermont-Ferrand International Short Film Festival dan masih banyak lagi.
| Sesi diskusi bersama para ahli perfilman di acara Fesbul, PosBloc, Jakarta. |
Mengusung tema “Terlupakan untuk Diabadikan, Diabadikan untuk
Tak Terlupakan” dalam sebuah postingan Instagram @fesbul.id menjelaskan bahwa
tema tersebut dipilih untuk merayakan berbagai aspek tak kasat mata dari
kehidupan, termasuk hubungan yang dibangun, kebaikan yang ditunjukkan, dan
nilai-nilai yang dipertahankan. Intinya, tema tersebut menegaskan bahwa warisan
adalah cerminan dari identitas dan perjuangan kita dalam membangun dunia yang lebih
baik, yang akan terus dikenang dan dihargai di masa depan.
Sesi pemutaran film pendek menjadi sorotan dalam acara ini,
berbagai genre film yang ditayangkan seperti “Romansa Di Balik Pagar Akal”, “Bersama
Membangun Negeri”, “Di Tengah Cakrawala”, “Rabu yang Bahagia”, “A Very Slow
Breakfast”, “Evakuasi Mama Emola”, dan “Wild Summon”.
Acara ini juga menghadirkan sesi diskusi dengan para ahli
dalam bidang perfilman yang beberapa diantara adalah sinematografer, produser,
hingga editor film seperti Anggi Frisca, I.C.S, John Badalu, dan Cesa David.
Sebagai seorang yang berpengalaman, mereka membagikan momen
dan pelajaran bagi para pengunjung seputar perfilman. Beberapa diantaranya
memberikan pendapat mereka masing-masing tentang penting atau tidaknya seorang
filmmaker belajar film atau sekolah film.
“Sebagai pembuat film, film itu seni yang sangat sistematis. Karena dari kacamata nya sinematografer, semuanya ada itungannya, semuanya ada
angkanya. Jadi segala sesuatunya perlu dipertimbangkan, dihitung, dan sistematis,”
ujar Anggi Frisca, I.C.S, selaku sinematografer dan sutradara perempuan asal Indonesia, Jumat (29/3/2024).
“Jadi dia butuh memahami atau tau pendidikan yang baiknya dulu untuk membuat film. Tergantung apakah dia belajar di sekolah fim atau tidak. Tapi bagaimana disiplin profesi sebetulnya bisa jadi salah satu acuan dirinya berkembang,” tambahnya.
Selain di Jakarta, acara Fesbul juga diselenggarakan secara
bersamaan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten. Film-film yang
diputar diantaranya: "Bersama Membangun Negeri”, "Titip Sendal”,
“Orderan Janda", dan "Try Again" turut memeriahkan acara ini.
Fesbul juga membagikan merchandise bagi para pengunjung yang telah melakukan registrasi sebelumnya. Pengunjung akan dibekali totebag, kaos, notebook, guidebook, dan voucher training center.
(SB)
Komentar
Posting Komentar